It's Better to Write Rubbish Rather Than Become Rubbish Because Never Write Anything

Wednesday, 27 August 2014

YOU WILL OBTAIN WHAT YOU DESERVE, NOT WHAT YOU WANT PENGALAMAN BEASISWA STUDY OF THE UNITED STATES INSTITUTE NEW MEDIA IN JOURNALISM

Capitol Building Washington D.C


Banyak diantara kita yang memiliki mimpi besar atau mempunyai cita-cita yang tinggi, namun semua itu hanya sebatas wacana ataupun sekedar mimpi belaka. Kita tidak jarang menyadari bahwa sebenarnya mimpi kita adalah awal terbentuknya masa depan kita ‘if you can dream it, you can do it’, mungkin istilah itu terdengar agak klise, tapi itulah yang terjadi pada diri saya.
Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit mengenai pengalaman saya ketika mendapatkan beasiswa summer-course di Ball State University, Muncie, Indiana , Amerika Serikat.

Saya berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang keluarga di bidang pendidikan dan hukum. Ketika saya duduk di sekolah dasar pertama saya memiliki sahabat-sahabat sepermainan yang sangat dekat. Waktu-waktu selalu kami habiskan bersama setiap harinya. Sampai pada suatu saat, salah satu sahabat memberitahu bahwa dia akan pindah ke Amerika Serikat karena mengikuti ayahnya yang menempuh pendidikan di sana selama tiga tahun. Hal itu membuat saya kaget dan sedih karena dia akan meninggalkan kami sahabatnya selama 3 tahun ke Amerika. Kepergiannya sungguh menginspirasi saya untuk pergi ke Paman Sam, sejak saat itu saya bercita- cita bahwa saya harus pergi ke Amerika, saya ingin menjadi dosen dan bersekolah ke Amerika. Sejak kecil saya sangat menyukai Bahasa Inggris, Ibu saya adalah seorang guru Bahasa Inggris SMP, namun anehnya saya hampir tidak pernah belajar Bahasa Inggris dengan beliau, beliau lebih memilih untuk memasukan saya ke Tempat Kursus Bahasa Inggris.  Ibu saya selalu berkata ‘Tuhan bukan memberikan sesuatu yang kamu mau, tetapi yang terbaik untukmu’, beliau bercerita tentang pengalamanya yang masuk jurusan yang tidak ia sukai, yaitu Bahasa Inggris.

Welcoming Breakfast at Ball State University
Hal yang sama terjadi pada diri saya ketika saya masuk perguruan tinggi, Saya sangat menginginkan jurusan Bahasa Inggris, namun pada akhirnya Ilmu Hukum-lah yang menjadi jurusan saya. Saya sempat frustrasi karena tidak terpikir sebelumnya akan masuk fakultas hukum. Namun, saya selalu mengingat pesan Ibu bahwa yang terbaik belum tentu yang kita inginkan. Setelah terjun dan belajar di fakultas hukum saya menemukan passion saya dibidang yang saya sangat sukai yaitu Hukum Internasional, mengetahui terdapat jurusan tersebut, semangat saya yang tadinya hilang menjadi bangkit lagi. Harapan saya, mimpi untuk belajar di Amerika dapat terwujud sebagai mahasiswa hukum. Saya memulai tahun pertama dengan aktif di organisasi English Society untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggris saya, terutama public speaking. Aktif sebagai Debater, saya yakin dengan kemampuan di bidang ilmu hukum dengan skill Bahasa Inggris, saya mampu mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke Amerika. Kebetulan, sudah banyak senior-senior dan alumni dari English Society yang telah berpengalaman belajar ke luar negeri terutama negeri impian saya, Amerika. Sehingga, saya memperoleh banyak informasi mengenai beasiswa yang ditawarkan baik oleh pemerintah Amerika, Jepang, Australia dan Negara-negara di Eropa. Tidak hanya itu, atas rekomendasi dari para senior, saya aktif di beberapa organisasi baik Internal maupun eksternal kampus, mengikuti berbagai macam seminar, pelatihan, training dan sebagainya, serta di kegiatan sosial, sebagai salah satu penunjang bekal untuk mendaftar beasiswa. Hal tersebut merupakan basic skill yang harus dimiliki oleh pelamar beasiswa yaitu keaktifan organisasi dan pengalaman kepemimpinan. Belum lagi bekal lainnya yang perlu dipersiapkan seperti, TOEFL, Surat Rekomendasi, sembari mempertahankan prestasi akademik di dalam kelas yang menurut saya sungguh menantang. Tetapi demi menjemput mimpi itu apapun akan saya lakukan.

Perjuangan saya mengejar beasiswa tidaklah semudah yang dibayangkan. Sejak awal semester saya sudah mempersiapkan diri untuk mendaftar salah satu beasiswa Fulbright yang bernama GLOBAL UGRAD, yaitu program selama 1 atau 2 semester belajar di Amerika Serikat. Syarat yang harus dipenuhi tidaklah mudah, mulai dari mengisi aplikasi,menulis essay pertanyaan, menyiapkan surat rekomendasi, TOEFL yang harus diatas 500, Sertifikat prestasi, serta syarat-syarat lainnya. Berbekal persiapan yang cukup matang, saya memberanikan diri untuk mengirim aplikasi GLOBAL UGRAD pada tahun 2012, dengan harapan dan doa agar aplikasi saya diterima.
AMINEF Office

November 2012,  hari itu semua berjalan normal, kuliah pada siang itu agak membosankan. Saya kemudian membuka Smartphone untuk mengecek sms atau sekedar membuka Facebook. Tiba-tiba ada salah satu E-mail mencurigakan, ketika email tersebut saya buka ternyata pengumuman seleksi interview program GLOBAL UGRAD, ternyata saya lolos tahap selanjutnya tepat di hari ulang tahun saya yang ke-20, sontak saya terkejut dan berteriak ‘Saya Lolos!’, kelas yang saat itu hening seketika menjadi kaget dan semua mata tertuju ke saya dengan wajah heran, sayapun tertunduk malu. Pada seleksi Beasiswa GLOBAL UGRAD terdapat beberapa tahap seperti seleksi dokumen, interview dan TOEFL IBT. Saya mempersiapkan seleksi interview dengan sebaik mungkin dengan berlatih dan membaca materi yang kira-kira akan ditanyakan. Tiba saatnya hari interview dimulai, bersama beberapa peserta lain dari berbagai daerah yang menurut saya mereka semua luar biasa, kami bergiliran masuk ke ruang interview. Layaknya sidang skripsi saya menghadapi 3 orang interviewer dengan karakter yang berbeda-beda, seperti istilah ada Angles and Demons di ruang yang agak mencekam, tapi saya mencoba bersikap santai dan tenang dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan para interviewer.

Saya menaruh harapan yang sangat besar pada beasiswa ini, dengan persiapan matang dan latihan. Namun, Tuhan berkata lain, setelah beberapa minggu menunggu hasil ternyata saya secara resmi dinyatakan tidak lolos seleksi tahap selanjutnya. Sungguh, perasaan yang bercampur aduk membuat saya lemas dan tak tahu harus berkata apa. Rasa tidak percaya dan kaget ketika mendapatkan E-Mail pengumuman yang menyatakan saya tidak lolos seleksi. Kenyataan yang sungguh pahit, perlu waktu 3 bulan bagi saya untuk bisa ‘move on’ dari kenyataan itu, terkadang saya sampai meneteskan air mata karena masih tidak percaya bahwa kesempatan saya yang sudah dekat untuk belajar ke Amerika menjadi musnah karena kegagalan tersebut. Sebelumnya saya memang sudah aktif mendaftarkan diri di kegiatan-kegiatan fellowship dan exchange melalui informasi di internet. Tapi dari puluhan aplikasi yang saya daftar saya mendapattkan 2 fellowship tahun 2012 di Hongkong dan 2013 di Taiwan. Namun, Amerika tetaplah menjadi negara Impian saya, dan kegagalan tersebut membuat saya frustrasi sampai-sampai saya tidak mau lagi mengisi aplikasi-aplikasi beasiswa dan program lainnya.

Saya teringat dengan kalimat ‘don’t stop now, because you never know if you are one step before finish line’, sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan senior-senior yang selalu menginspirasi saya kembali memberikan semangat bagi saya untuk tetap mengejar mimpi saya untuk belajar di Amerika. Sampai saya memberanikan diri untuk mencoba mendaftar salah satu program beasiswa Study of The United States Institute yang disponsori oleh U.S Department of State dan Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta. Program SUSI, tidaklah sefamiliar GLOBAL UGRAD, IELSP atau program-program dari AMINEF lainnya, karena masih tergolong baru dan belum banyak yang mengetahui. Atas rekomendasi dari salah seorang senior saya pun melengkapi aplikasi saya dengan mengisi formulir, meminta 2 surat referensi dari dosen, serta syarat lain untuk di kirim ke E-Mail Kedutaan. Kebetulan pada saat itu terdapat 2 program SUSI yang tersedia yaitu SUSI New Media in Journalism dan SUSI Global Environment Issue. SUSI merupakan beasiswa penuh dari pemerintah Amerika untuk Student Leaders, sebenarnya ada beberapa macam program SUSI yang ditawarkan oleh U.S Department of State dengan berbagai tema selain yang telah saya sebutkan, seperti Religious Pluralism, Entrepreneurship, Woman Empowerment, Dll. Namun, Indonesia hanya mendapatkan 3 topik dari program SUSI yaitu New Media in Journalism (NMJ), Global Environment Issue (GEI), Religious Pluralism (RPA) dengan waktu yang berbeda beda, seperti NMJ diadakan saat Summer, GEI diadakan saat Spring, sedangkan RPA diadakan saat Winter. Dan pembukaan pendaftaranya pun berbeda-beda sesuai dengan yang diinginkan pihak U.S Department of State, namun biasanya pada akhir tahun antara September-Desember.
Anchoring Session at Newslink Indiana
Atas beberapa pertimbangan dan masukan, saya memutuskan untuk mengirim aplikasi SUSI New Media in Journalism, karena cukup relevan dengan bidang yang saya tekuni yaitu Media. Saya mengisi formulir secara lengkap dengan memasukan prestasi-prestasi dan kegiatan saya yang relevan di bidang Media dan Jurnalistik. Salah satu kunci dari mendaftar beasiswa SUSI, yaitu aktif di bidang yang sesuai dengan program yang ingin kita daftarkan. Dan yang tidak kalah penting yaitu aktifitas di bidang sosial yang berdampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat, seperti volunteer activity, community development, social service, dll. Berbeda dengan aplikasi beasiswa lain. Menurut saya aplikasi SUSI sangatlah simple, kita hanya perlu mengisi formulir dan melengkapi dokumen yang dibutuhkan dengan men-scan dokumen tersebut seperti sertifikat TOEFL, dan Surat rekomendasi. Kemudian mengisi essay yang menurut saya cukup mudah, hanya menjelaskan hal yang intinya mengapa kita pantas mendapatkan beasiswa tersebut cukup setengah halaman atau 300 kata.

Sebulan lebih menunggu pengumuman, suatu hari saya mendapatkan telepon yang tak dikenal. Karena pada saat itu saya sedang bertemu dosen saya me-reject panggilan tersebut. Belum puas, panggilan itu kembali muncul, akhirnya saya keluar ruangan dan menjawab panggilan tersebut. Ternyata panggilan berasal dari staff Kedutaan Amerika yang menanyakan prihal aplikasi saya, dan menginterview sedikit tentang diri saya. Kaget bukan kepalang, saya dinyatakan lolos untuk mengikuti program Summer-Course dari SUSI untuk belajar selama 5 minggu di Amerika Serikat tentang New Media in Journalism bersama 8 orang peserta lainnya dari Indonesia dan 6 dari Malaysia. Doa-doa terjawab sudah, semua usaha yang saya perjuangkan terbayar sudah, saya kembali mengingat pesan Ibu, ‘yang terbaik belum tentu yang kamu inginkan’. Tuhan memberikan yang terbaik dan pantas untuk saya, dan program SUSI merupakan yang terbaik untuk saya bukanlah GLOBAL UGRAD. Mungkin apabila saya mendapat beasiswa GLOBAL UGRAD saya tidak akan mungkin lulus dengan waktu 3,8 tahun karena saya harus mengambil cuti, sedangkan program SUSI dilaksanakan pada saat libur semester, jadi tidak mengganggu aktivitas perkuliahan. Menyadari hal itu saya merasa sangat bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.
Indianapolis Motorspeedway
Pengalaman belajar di Ball State University, merupakan pengalaman luar biasa yang tak terlupakan. Mimpi untuk merasakan atmosfir pendidikan di Amerika dengan pengajar-pengajar luar biasa, fasilitas yang super lengkap, serta bahan-bahan belajar yang sangat memadai. Kami belajar mengenai penggunaan media terutama dalam bidang jurnalistik. Selama di Ball State, materi yang dipelajari sungguh menyenangkan, karena mayoritas dari materi yang diajarkan berupa praktek seperti, photography,videography, recording, journalistic writting, reporting, newscasting dan lain-lain. Kemudian kami dipersenjatai dengan gadget-gadget selayaknya professional journalist seperti camera, recorder, handycam, yang menunjang kami dalam melakukan praktek jurnalistik di lampangan. Tugas- tugas yang diberikan juga sanggat menyenangkan seperti mewawancarai warga Amerika yang merayakan hari kemerdekaan Amerika, membuat desain grafis, mengedit video dan audio serta materi-materi seru lainnya. Materi lain seperti U.S Foreign Policy, Leadership, American History, juga diajarkan, belum lagi materi mengenai hukum media dan kode etik yang sangat sesuai dengan jurusan saya membuat saya semakin semangat belajar.
My Host Family, Dad Dom, Mom Kim and Zak

Pengalaman tak terlupakan yaitu bisa merasakan kehidupan sosial dan budaya di Amerika, berkumpul dengan mahasiswa Amerika, night-party, berinteraksi langsung dengan penduduk sekitar, Host-Family Program dengan keluarga Amerika, dan yang paling menarik hidup sebagai muslim minoritas di negeri orang di bulan Ramadan dan merasakan puasa lebih dari 16 Jam. Kami juga wajib mempresentasikan kebudayaan Indonesia pada Cultural Night yang dihadiri oleh dosen-dosen ,mahasiswa serta host-family, merupakan suatu kebanggaan yang besar bisa memperkenalkan kebudayaan Indonesia di depan masyarakat Amerika khususnya kebudayaan Lampung.
United Nations Headquarter
Program SUSI NMJ terdiri dari 4 Minggu di Kampus Ball State University dan 1 Minggu Educational Excursion di akhir program. Kami juga mendapatkan program community service di 2 lembaga sosial yaitu Second Harvest Food Bank dan Habitat for Humanity. Karena program kami fokus di bidang Media dan Jurnalistik, wisata kunjunganya juga berhubungan dengan bidang tersebut seperti mengunjungi Stasiun TV WRTV6, Indianapolis Newspaper, NPR Radio Station, Gedung pemerintahan di Indiana serta Walikota Muncie. Kami belajar banyak hal mengenai Jurnalistik dan produksi media serta canggihnya peralatan yang digunakan dalam memproduksi suatu informasi di Amerika Serikat. Setelah itu kunjungan yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan ke Nashville dan Kentucky pada akhir pekan.
Practicing Line Dances

Akhir dari program SUSI NMJ yaitu Educational Excursion, yang merupakan headline dari perjalanan kami, mengunjungi Philladelpia, New York dan Washington D.C. Perjalanan dari Indiana melewati beberapa State seperti Ohio, West Virginia, menuju Philladelpia untuk mengunjungi gedung kemerdekaan yang merupakan tempat lahirnya Amerika Serikat dan terdapat Independence Bell. Namun, Headline dalam perjalanan saya bukanlah Times Square, Liberty Statue, ataupun Metropolitan Museum, melainkan United Nations Headquarter, dimana segala kebijakan global dan resolusi-resolusi dunia di buat, Tempat dimana Rapat sidang majelis Umum di gelar. Sebagai mahasiswa yang aktif di Model United Nations, mengunjungi Gedung PBB diibaratkan dengan ‘naik haji’, ‘Dreams do come true’,  sayang saat itu salah satu Chamber General Assembly dimana tempat yang saya inginkan untuk dikunjungi sedang dalam renovasi. Saya berjanji untuk selanjutnya saya kesini bukan sebagai turis, melainkan sebagai Delagasi dari Republik Indonesia, yang mewakili bangsa Indonesia dalam satu konferensi Internasional. Perjalanan kami ditutup dengan penutupan dan penyerahan piagam di U.S Department of State Headquarter di Washington D.C .
Cultural Performance, Saman Dance

Bagi saya pengalaman Summer-Course SUSI adalah pengalaman luar biasa yang hanya saya dapatkan hanya sekali dalam seumur hidup. Kunci yang selalu saya pegang adalah selalu menjadi diri sendiri, buatlah dirimu istimewa. Pengalaman gagal yang pernah saya rasakan selalu mengingatkan saya agar selalu bersyukur dengan memberikan semangat kepada para pemuda untuk selalu menjadi inspirasi bagi orang lain. Kalimat yang selalu saya pegang, ‘If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader’-John Quincy Adams. Saya selalu ingin menjadi orang yang dapat memberikan inspirasi bagi orang lain melalui tindakan yang saya lakukan sehingga pada akhirnya hidup kita akan bermanfaat bagi setiap orang.
My Graduation at U.S Department of State
Ahmad Novindri Aji Sukma is a fresh-graduated from Law Faculty of Lampung University. He was the Alumnee of Study of The United States Institute New Media in Journalism sponsored by U..S Department of State. He was also the winner of Youth Multimedia Youth Competition held by UNESCO USA and invited to UN Headquarter to present the ‘Village Library Project’in 2014. He is the co-founder of Indonesian Future Leaders Chapter Lampung and President of Lampung MUN Club. He plans to continue his gradschool to America studying International Human Rights and Diplomacy. He enjoys playing Metal Music, Debating, and Doing Community Service.

Wednesday, 18 December 2013

Everybody can be stylish, You can be whoever you are

In this modern society, everyone is trying to be respected with other people. No body wants to be considered low, especially for young. They make themselves looked neat or even fancy, so it makes other people acknowledge their social status. Otherwise, for those who can’t afford to buy nice attire, they might be looked simple or even shabby. In particular, This might not be happened at the place where i were. I learn about people and life style in United States, until i realize that social gap is not as big as what happen in my country. I know it’s not fair to judge people from their outfit. ‘Never judge a book by it’s cover’ , that might be right. However, in fact the ‘Normal’ people will consider you as a good or not from your outside, including your attire. It reflects your behavior and attitude, when you are used to wear neatly and good, it reflects that you are caring person, because you do care with your performance and you don’t want other people consider you as shabby person.Yes it’s not fair, people have different point of view about it, some of them disagree . Outside can’t guarantee what is inside. If you wear fancy attire doesn't mean that you are rich, but at least it builds the view from other people about you at the first sight.
In Indiana, the people there perform so differently. They really do care about their appearance. Sometime we can acknowledge the social status from their appearance, but not here. Even you can see the gardener, builder, garbage collector with the cool style. They wear nice t-shirt, brand shoes like Adidas or Nike, sunnies,,ipod with headset on. I mean it, even they are looked cooler than me lol. In the other side, people that we consider as the high class perform the same way. For  example my Professors and Lecturers, they are really casual most of the time, especially when they teach us only wearing t-shirt, shorts, and snickers! Or sometime sunnies on their head.Yes i guess, they might also wear the propriate attire in particular circumstance or formal maybe, but during our summer time in Ball State University, they always put it in the proper situation basic on the season itself.  We cant find it in our country, most of Professor or Lecturer rarely wear casual attire at College, they always want to be professional and looked prestige. That was interesting for me knowing that we have different culture in attire.

ABOUT CULTURE SHOCK

Muncie, Bicara tentang culture shock itu merupakan hal yang menarik, istilah itu yang kami rasakan setelah pertama kali datang ke USA. Okay, dimulai dari Dorm, jadi kami tinggal di salah satu dorm di komplek Ball State University yang bernama Studbaker West, sebenarnya ada beberapa dorm tempat tinggal untuk mahasiswa terutama untuk freshman( Mahasiswa tahun pertama) , Pertama kali sampai di Dorm setelah dijemput menggunakan Big Bus kami langsung Check In di Dorm. Tapi menurut saya lebih dibilang sebagai Apartment, karena memang lumayan bagus, fasilitasnya semua lengkap untuk mahasiswa seperti Laundry, Study Lounge, Shared Bathroom, Bahkan ada tempat Fitness dan hiburan seperti Billiard , TV dan lain- lain. Jadi kalau menurut saya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak rajin belajar kalau fasilitasnya sudah lengap begini. Ketika masuk kamar semuanya sudah lengkap dan tertata rapih seperti Bed, Desk, Cabinet Etc. 
Di Studbaker west, nama dorm tempat kami tinggal saya bersama 2 orang teman saya Zacky dan Bowo, untuk kamar sendiri ada yang memilki 2 bed dan ada yang memiliki 3 bed, karena kami bertiga jadi kami disediakan kamar dengan 3 bed yang ukuranya cukup besar dibanding kamar lainya. Semua kamar telah dilengkapi dengan sistem pendingin dan juga pemanas, karena kalau musim panas di Indiana bisa sangat panas melebihi di Indonesia, namun bedanya kalau indonesia panas disertai dengan polusi, tetapi kalau di Indiana Panasnya memang murni panas matahari. Bicara mengenai cuaca selama kami tinggal di Muncie, Indiana cuaca memang sering tak menentu, kadang hujan lebat, kadang sejuk, dan kadang juga bisa sangat panas, 2 minggu pertama memang cuaca masih bersahabat, terkadang sejuk, hujan dan gerimis kecil, namun lama- kelamaan cuaca makin ekstrem dan semakin panas, yang tadinya tumbuhan dan bunga tumbuh subur perlahan menjadi mati, kemudian rumput yang hijau juga berubah warna menjadi coklat. Kondisi tersebut membuat kulit kami menjadi kering, apalagi kami yang terbiasa tinggal di daerah lembab, kulit bisa menjadi pecah-pecah, jadi pastikan menggunakan lotion untuk mereka yang berasal dari daerah tropis ketika menghadapi musim panas di Amerika.
Kemudian, mengenai Kantin Kampus, bicara mengenai makanan tentu merupakan suatu hal yang sangat krusial, salah satu Culture Shock yang kami rasakan selama tinggal di Amerika. Saya akan menjelaskan beberapa hal mengenai makanan di Ball State University. Ketika kami di Ball State, kami diberikan kartu bernama meal card, yang berfungsi sebagai  sistem pembayaran untuk tiap makanan yang kami ambil, jadi seperti halnya kartu pembayaran, jadi meal card tersebut sudah otomatis terisi untuk breakfast, lunch dan juga dinner. Untuk Breakfast dijatah $4.45 ,sedangkan untuk lunch dan dinner jatahnya $7,85, mengapa breakfast lebih sedikit karena ya biasanya kalau sarapan pasti makan tidak begitu banyak, paling susu, sereal, fries, eggs dll. Dan makan siang juga malam pasti lebih banyak. Di Ball state ada beberapa kantin di tiap gedung, tapi kami biasanya makan di Atrium di lantai gedung yang sama ketika kami kuliah atau di Tally yaitu di student center. Kantin di Amerika seperti halnya di supermarket, jadi ada beberapa seperti kios di dalamnya dan juga makanan dan minuman yang kita ambil sendiri, kalau mau pean makanan seperti Taco Bell, Boar’s Head, dll kita tinggal minta saja langsung dengan penjaganya dan kita bayarnya secara keseluruhan makanan yang kita ambil di kasir. Boleh pilih makanan apa saja seperti Pizza, Pasta, Burger, Salad, Buah, snack, coklat dll asal tidak melebihi jatah meal card yang sudah ditenntukan, kalaupun ternyat kita mengambil lebih ya sisanya kita harus bayar menggunakan uang pribadi, lain halnya kalau kita mengambil surang dari jatah yang ditentukan, kita tidak akan diberikan uang kembali, melainkan sisanya akan hangus, jadi kalau kita lewat jam- jam makanya yang ditentukan, maka jatah kita secara otomatis akan hangus, jadi sebisa mungkin kami selalu mengambil makanan pas dengan jatah yang diberikan. Supaya tidak rugi. Kami lebi suka makan di Kantin Tally dari pada di Atrium, karena di Tally makananya lebih variatif, selain itu ada Chef Jason yang selalu melayani kami dengan menyediakan makanan Homestyle yang lumayan ‘enak’, bahkan dia selalu menyediakan makanan khusus untuk kami, seperti nasi, daging halal, Salmon dll. Memang walau sedikit lebih mahal tapi at least lebih baik dari pada junk food. Sedikit mengenai makanan, jadi di Amerika makanan sehat itu harganya lebih mahal bisa sampai dua kali lipat, seperti non-fat milk and soda, Veggie,buah, sayur dan makanan- makanan yang tidak mengandung banyak kalori. Tetapi kalau makanan junk yang biasa kita temui seperti soda, hamburger dan makanan dengan lemak tinggi relatif lebih murah. Lebih lagi, bicara mengenai porsi, porsi di Amerika sangat lah besar, bahkan kalau kita pesan makanan dengan ukuran paling kecil pun, itu sudah lumayan besar menurut saya, seperti minuman, roti dan lain- lain , tidak heran kalau orang- orang Amerika memiliki tubuh yang besar- besar. Obesitas juga menjadi suatu permasalahan yang cukup besar di amerika, makanan dengan minyak yang banyak serta kalori tinggi tentunya sangatlah tidak sehat. Memang tidak semua kampus di Amerika memberlakukan sistem meal card, tetapi memang kebanyakan untuk mempermudah, mereka menggunakan sistem ini. Lain halnya dengan orang- orang yang tidak memiliki meal card, mereka masih tetap bisa mengaskses kantin, tetapi menggunakan uang cash sendiri seperti dosen-dosen atau visitors.

INDIANAPOLIS

This is the last of the long journey, and finaly sekitar sore hari, karena matahari baru terbenam sekitar jam 9nan, wah jadi nyampe sekitar jam 8 lewat, sesampainya disana Mary ,Suzy, Jeff yang memegang kamera menyambut kita dengan hangat, dan mega juga sudah menunggu disana, stay di airport beberapa jam, karena penerbangan Zack dan Amel dari NY kena delay. Ya udah nunggu,sambil nunggu anak malaysya datang juga, tapi setelah memutuskan akhirnya kami langsung aja menuju bus yang sudah menunggu, bus super besar seperti kabin pesawat , super keren. Perjalanan dari Indiana Polis about 1.30 jam, lumayan juga, nyampe di Kampus Ball State University kita langsung cek in kamar dan langsung istirahat sambil beres- beres barang, kamarnya lumayan bagus tempatnya bersih dan  rapih , punya shared bathroom with music in it, terus kitchen, terus studying lounge ,laundry berbayar, ruang santai ,etc. So it’s fun so far.
Jetlag sih masih kerasa, jam 1 baru bisa tidur tapi terbangun terus, dan bangun jam 6, ya memutuskan untuk jalan-jalan pagi, sambil menikmati suasana pagi di Ball State University, wah pagi cerah semuanya terlihat bagus, sambil foto- foro yang jelas, n mengingat tempat tempat disana. Kita harus kumpul jam 8.30 jadi harus siap jam 08.00.Official opening dihadiri semua orang yang terlibat dalam program, jadi kami diperkenalkan langsung oleh semua committee dan participant, sambil menikmati lil breakfast yang menurut saya besar dan bikin kenyang balau dengan roti dan buah-buahan segar,  setelah itu kita lanjut ke sharing- sharing sedikit about the program sama para teacher, dosen dan profesor di Jurusan Jurnalistik dan media, di kasih Kits plus kaos bertuliskan Ball State , handphone untuk komunikasi sama allowance buat jajan, terus pengisi ada dari polisi kampus yang menerangkan tentang keamanan disini dan memperingatkan untuk selalu jaga diri kemanapun berada. Jam 12 kita kumpul untuk jalan- jalan ke sekitaran kampus, mengunjungi international student hall, gedung- gedung kuliah, yang semuanya amazing, bersih rapih, indah, tertata dengan baik.
Summer yang indah, walaupun lumayan panas tapi masih enak, ga bikin menyengat, bunga- bunga bermekaran dengan indah, hamparan rumput, gedung- gedung yang keren, dengan isi yang super moderen, kapan bisa kuliah di kampus seperti ini, gimana anaknya ga pinter-pinter, semuanya ada, fasilitas lengkap, belajar bisa konsentrasi, wah sungguh pengalaman yang luar biasa, beruntung sekali saya, melihat, icon-icon ball state universit seperti menara lonceng dan patung memorial, semuanya keren, emang serasa di Amerika yang kaya di tipi-tipi itu lah, people are friendly as well, saling menyapa dan baik, salut semua litsama para committee SUSI with their wonderful hospitality and people and places. So, kita juga ke Gymnasium, dimana tanak-anak kampus, olahraga, namanya tempat recreation and wellness, wah one stop sports dah, semua ada dari fitness, lapangan bola indoor, swimming pool bahkan alat- alat pecinta alam dan panjat tebing yang keren, wah keren abis, jadi kita di guide sama petugasnya keliling dan di kasih kartu untuk menikmati fasilitas olahraga selama di Ball State, isn’t it fun? Bahkan kita di kasih kaos pula, wah keren-keren dah pokoknya, jadi kita makan 3 kali sehari tapi pake kartu meal gitu, yang pagi jatahnya 4.50 dollar, siang dan malam 7.85 dollar. Jadi bisa ambil makanan aja di dining hall asalkan ga lebih dari harga tersebut, terserah mau sandwich, taco bell, salad, coklat etc, jatahnya segitu kalo kurang ga dapet kembali, tapi kalo lebih bayar uang sendiri, ya harus di pas- pasin aja paling enggak biar gag rugi. Ya asik juga sih , bisa pilih makanan sesuka hati dan macam- macam setelah semuanya beres kita sore langsung balik ke dorm deh, kaerna besok will be a very long day and start our first class, so stay tune :D 


WELCOME TO AMERICA ...

The next flight ... Minneapolis, masih sama seperti penerbangan sebelumnya naik delta, tapi yang kali ini suasana Amriknya sudah lumayan terasa dari pertama masuk pesawat, para penumpangnya juga mayoritas bule-bule, perjalanan panjang mengarungi samudra terbesar didunia Pasifik pun dimulai,perjalanan kurang lebih 11 jam di atas pesawat, lumayan exhausting tapi fun juga, di  atas pesawat menghabiskan waktu dengan makan, nonton, denger musik dan tidur, tidak begitu menarik. Tapi ketika ada peringatan sedang ada storm, wah mulai ngeri aja, turbulance yang lumayan gede bisa buat ketakutan, tapi semua itu berhasil diatasi, melihat peta di monitor ternyata sudah melewati The Mainland of America, lihat ke jendela sudah terlihat di atas daratan, wah masih belum percaya sudah di Amerika, dulu biasanya Cuma mimpi dan saat ini menjadi kenyataan. Yah dengan egenap mimpi dan perjuangan apapun pasti bisa tercapai, buktinya sudah banyak kok, mau apa lagi yang diragukan. Dengan keyakinan pasti ada jalan.
Rasanya mendarat di amerika itu? Ya apa lagi yang dirasa selain gembira, sepanjang jalan masuk ke airport senyum-senyum kesenengan. Tantangan pun dimulai, yaitu melewati petugas imigrasi yang menurut info super duper ketat, wah- wah bisa gag ya?,lumayan nervous tapi pede aja, masuk dengan mengantri yang lumayan panjang ke visitors line, melangkah ke tempat petugas imigrasi yang mukanya keliatan sewot, tapi dengan asik saja sambil senyum menyapa, lalu menyerahkan semua dokumen, fingerprint dan melihat ke kamera, lalu petugas nanya, ‘what are you going to do in America’ i just simply said ‘ i visit america for study’, jadi kuncinya melewati imigrasi itu jawab pertanyaan dengan brief dan jelas , ga usah ada tambahan- tambahan , karena hal itu bisa buat petugas penasaran atau bahkan curiga dan makin banyak nanya, jadi pastikan jawab dengan singkat, padat jelas sesuai dengan apa yang ditanya, terus lanjut, dimana mau belajar dimana ‘ ball state University’ , karena sebelumnya kitsudah punya senjata pamungkas yaitu sokumen D2019, karena itu kunci utama kita biar aman, danlangsung dari  embassy, jadi petugas di amerika tau bahwa kita mau ke US itu jelas, lalu petugas cewe itu bilang, that’s cool, are you a student’ and yes i said, ok good luck , she replied. Akhirnya imigrasi pun lewat , Alhamdulilah, lanjut ke claim luggage then pemeriksaan barang, wah super banget, petugasnya pertanyaanya banyak, seperti kamu bawa daging, ayam atau makanan dengan bahan tsb dlll, tapi saya bilang tidak, nah setelah di x ray ternyata petugas menemukan sesuatu, madu yang saya bawa lupa di masukan di bagasi, jadi harus ucapkan selama ttinggal dengan Madu, lumayan sih  tapi ga apa, masih ada 1 di luggage. Oke lanjut lagi ke scanning, harus lepas semua termasuk sepatu dll, dan suruh masuk suatutabung dan angkat tangan dan discan, buat memeriksa bawa suatu barang atau enggak. Yah aman dah. Fuh akhirnya lewat jug.
Pengalaman yang menarik sepeti biasa pasti ada, seperti kata pepatah if you want to know who you are so you have to get lost and find your self, ya itu berlaku, dan kami nyasar di bandara Minneapolis, sebenarnya Bandara di minneapolis ga sebesar di jakarta tapi Indah juga, mau nyoba naik sky train, untuk menuju Gate B10, tapi ternyata kita nyasar di suatu area yang menyebabkan harusnya bisa satu kali tapi kami melewati security check 2 kali, dan itu lumayan banget karena harus buka semuanya melewati security check yang super ketat, buka laptop lagi , buka sepatu lgi dll yang karena nyasar harus masuk dua kali, fuih, untungnya air minum grtis disini karena langsung bisa minum dari water fountain yang segar dan dingin. Oke lah fine, dan akhirnya kita masuk gate juga, wah ternyata pesawat yang mengantar kita ke Indianapolis itu pesawat yang kecil, 2 bangku kiri 2 bangku kanan, walau kecil tapi tetap fun, and Welcome to Indiana.

TOUCHDOWN TOKYO !

Apa sih yang terpikirkan di otak kalian kalau mendengar kata Jepang? Anime, Kartun, atau cewe-cewe Jepang yang kece-kece? Ya itu kira- kira yang ada dibenak saya ketika pertama kali menginjakan kaki di Narita, Bandaranya yang Super Modern tapi memang jauh sih dibanding dengan kerenya changi, pokoknya Changi ga ada matinya deh hahaha. Tidak lupa tradisi Kencing dibandara wajub dilakukan sebagai bukti bahwa kita pernah ke negara tersebut, hahaha. Kalo buat saya kita belum mengunjungi suatu negara kalau belum kencing di sana, hahaha. Terutama juga saya penasaran dengan toilet di Jepang yang katanya super moderen itu, ya sudah saya jajal semua lah. Memang kita tidak lama di narita hanya sekitar 1 setngah jam , belum lagi mengantri di pemeriksaan. Melihat sekitar Narita oke juga, tidak lupa membeli beberapa souvenir di Jepang, salahsatunya yaitu Ikat kepala yanga ada lambang Jepangnya, sudah lama sekali saya menginginkan ikat kepala itu, beruntung bisa langsun beli di negaranya, jadi ikat kepala, Gantungan kunci bendera jepang dan 1 pin cepang seharga 10 dolar, lumayan mahal sih, ya tapi kapan lagi lah bisa belanja disana. Memang ketika pulang nanti bakal mampir di Jepang lagi tapi belum tentu sempat kan, jadi manfaat kan saya kesempatan kalau ada, hehehe, ya sudah saya  dan kawan- kawan sambil narsisan foto.-foto di tiap sudut yang ada lambang Jepangnya, supaya menandakan bahwa pernah ke Jepang gitu lho, dan sempatkan juga mengambil video untuk materi Film, lalu langsung Check In dah di ruang tunggu, dan tidak lama kemudian langsung Boarding.
Jadi ceritanya dari Singapore sampai ke USA kami semua naik maskapai yang namanya Delta Airways, Pesawatnya sih bagus servisnya ok, makannanya juga ok, tapi pramugarinya yang agag kurang, , kalau dilihat kebanyakan sudah pada tua-tua,. Dan saya selalu duduk di samping Ndeen dan di sebelah jendela, ganti-ganti orang, tadinya berharap bangku kosong supaya bisa pindah ke seat jendela atau bisa selonjoran, jahat ya? Ya tapi itulah pengalaman, memang walaupun sebentar di Jepang yang penting kalau sudah ditanya orang , pernah ke Jepang, hehehehe, maunya sih bisa keluar walaupun sebentar, dan biar bisa dapet Cap di Passport kalau pernah ke Jepang, Lumayan kan, ya tapi mau bagaimana lagi , di Bandara juga transit Cuma sebentar, hehehe
Its gonna very long flight about 11 hours, i hope it would be fun... OK , SEE YOU SOON DREAMLAND USA

LONG JOURNEY STARTS FROM NOW ...

Perjalanan yang akan panjang dan bakal luar biasa akan segera dimulai, rute penerbangan kami untuk menuju dreamland yaitu Jakarta-Singapura-Tokyo-Minneapolis-Indianapolis. Kalau di hitung-hitung ya dari Jakarta ke singpura sekitar 90 menit, terus Singapura ke tokyo sekitar 7 jam, Tokyo ke Minneapolis sekitar 11 Jam dan penerbangan terakhir menuju kota Indianapolis sekitar 2 jam, perjalanan yang bakal super menyenangkan. Tunggu dulu , memang seharusnya kami ber 9 datang bersama- sama, tetapi pads saat itu kareena kendala visa si Zacky dan Amel sehingga menyebabkan Visa mereka di postponed , dan bahkan baru keluar sekitar beberapa hari sebelum berangkat , kebayang gimana galaunya mereka pada saat itu, karena kami buat visa sekitar 3 bulan sebelum berangkat dan ke 6 dari kita semua lancar, namun si Mega yang berasal dari Makasar juga menemui kendala karena dia mengurus visa di Konsulat surabaya. Jadi Pada saat itu kami ber-9 berangkat bersama dariJakarta- Singapura- Tokyo, tetapi harus pisah di Bandara Narita dengan Zacky, Amel dan Mega, karena rute kami sebelum ke Indianapolis adalah menuju Minneapolis, sedangkan Zacky dan Amel Terlebih dahulu menuju NYC di bandara JFK, dan Mega sendirian yang melewati Detroit, yah beruntungnya saya karena bisa tetap bersama ke 5 teman lainya, karenak tidak perluk terlalu khawatir nyasar karena bisa bareng- bareng.
Kita semua janjian berkumpul di bandara Soekarno-hatta, tapi karena saya,Bowo dan Mega yang menginap di jakarta sehingga menyebabkan kita datang lebih awal ke bandara, ya mau gak mau harus menunggu lama, sampai di bandara Soeta sekitar jam 2, sedangkan flight ke Singapura jam 8.30, , wah lumayan juga menunggu segitu lama, jadi kami memutuskan untuk menunggu di KFC bandara sampai bertemu dengan teman-teman lainya. Kami memang berencana untuk membuat suatu Film Dokumenter tentang perjalanan kami, jadi di bandara kami shooting beberapa scene buat materi film , lumayan juga sambil mengisi waktu.  Well, the Squad is already completed, sekitar jam 7 Delegasi SUSI NMJ 2013 Lengkap, yah kita mulai langsung check in di Terminal 2, melewati Imigrasi dll. Tidak lupa juga narsis-narsisan sebelum berangkat dengan berfoto bersama plus bendera kebangsaan merah putih, betapa bangganya bisa membawa sang merah putih ke kancah Internasional. 
Excited? Pasti gimana tidak, ini pertama kali ke singapore , yang tentunya bisa merasakan megahnya bandara changi yang super keren itu, wah waktu pertama kali menginjakan kaki saja sudah berfikir, ini bandara atau mall ya, soalnya gede banget, barang-barang ternama semuanya ada, belum lagi fasilitas yang amazing seperti Free Internet Access dimana-mana bertaburan, Super High speed wifi, Free Massage,Free movies, free games Xbox, Water Fountain, Botanical Garden dan kawan-kawanya. Nah kita sampai di bandara changi sekitar tengah malam, jadi kita mendapatkan voucher hotel untuk menginap di Transit Hotel di bandara yang hotelnya itu keren lah, sayangnya kita Cuma bisa stay beberapa jam saja disana, wah tapi saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk-keliling-keliling changi dong dan menikmati fasilitas disana seperti Free Massage yang enak banget. Jadi saya ,bowo dan zacky keliling-keliling di changi sebentar lah, menikmati kerenya bandara terbaik di dunia itu.
Penerbangan ke Narita pada pukul 5-45 pagi , jadi harus check in 1 jam sebelumnya minimal, setelah beres semua, mandi, istirahat sebentar dll, kami langsung aja check out dari hotel dan checkin di counter. Penjaga-penjaga counter disana sepertinya kebanyakan orang-melayu kelihatan dari penampilan dan bahasanya, tapi petugas keamananya kebanyakan orang india gitu, yang kagetnya, petugas-petugas india itu lancar banget ngomong bahasa indonesianya, jadi malu sendiri orang luar saja jago bahasa kita sedangkan kita ga bisa bahasa mereka. Selanjutnya ya harus melewati pemeriksaan di changi yang lumayan ketat, dan sedhnya saya lupa memasukan madu ke bagasi, dan masih ditas sehingga harus di sit oleh petugas  , nyesel juga sih. Tapi ga apa lah, semuanya terobati karena perjalanan selanjutnya adalah menuju Narita Tokyo. See you Tokyo!